ugred/lifeinsuranceuk19@gmail.com 5:20 -18-21-

Minggu, 12 Juli 2015

Forced Marriage

Posted By: Unknown - 14.52

Forced Marriage


Education is the most important thing for Hamdah chase because he knows that the future is determined by the extent of their education. Feelings of pleasure continued to overwhelm Hamdah and restless soul was bergebu, judging from the look on his face was not anxious because she missed someone he loved but because Hamdah eager to greet the morning because in the morning it was the first day he will feel the atmosphere of new classrooms (X SMA) after the graduation of the class of the previous (IX MTS). Beautiful eyes continue to sprinkle a light spirit, Hamdah increasingly impatient he was constantly protesting the night that never passes. Her mind was not the slightest releasing atmosphere does he wait and he aspired namely education on the bench School (SMA) and not just leave it there, he also wants to get an education until college. All the way to Melangkap time for the morning he arrived continue to do even though it's useless except for her eyes to sleep. All books and new school uniform he hoped that he had prepared unhurried when he later time has arrived. Hamdah began to surrender with his eyes closed and he fell asleep in his dream to see the park altogether because he never believed her dream just a mere flower bed.

The morning was really welcome it begins to dawn paintings were so beautiful together with twigs new expectations, the morning sun brings a variety of stories that should not be not be passed in order not to get caught by the passage of time. After morning prayers without wasting a lot of time with useless Hamdah was immediately rushed to prepare on her wall clock shows 06:30 numbers and after Hamdah goodbye to Abah and Uminya he went. Morning breeze and the chirping of bird song that accompanied his footsteps stomping great enthusiasm that education is the most important thing he had to pursue it realized that someone seeking knowledge an angel has spread its wings as the base.
Already one week Hamdah living her life as a student of class X SMA with passion burning brightly burning boredom and tedium that haunt him every day. That afternoon Hamdah seekolah new home, suddenly before he could get into the room to change clothes, midday prayer and lunch break Hamda shocked by the call Abahnya in the living room. The room was silent because in addition to greeting him Abahnya just quietly pay attention Hamdah sitting down in front of him. Hamdah wait Abahnya begin talks because he himself is not possible melalkukan that she kept her head bowed as a sign of respect to the question slightly larger Abahnya occurred Hamdah because it was the first time he was called by Abahnya to that serious and once again it is not possible question.
Setelah beberapa menit kemudian Abahnya mulai membubarkan hening yang menyelimuti mereka dalam ruangan itu. “Begini nduk, kamu itu sudah besar Abah sekarang ingin membicarakan tentang masa depan kamu yang jelas kamu sudah paham dengan apa yang Abah maksudkan. Abah dan Umi sudah tua sebenarnya Abah tidak ingin memaksakan hal ini kepadamu namun menurut Abah ini merupak keputusan yang tepat bukahkah kamu sudah tahu kalu Abah sering sakit-sakitan dan sudahlah, kamu turuti saja kemauan Abah”. Tutur Abahnya. “Kenapa hal ini harus terjadi bah, aku masih belum bisa melakukan hal itu semua aku masih ingin mengejar cita-cita yang Hamdah impikan dari kecil”. Jawab Hamdah, dengan mata yang berkaca-kaca ia tak menyangka bahwa Abahnya memanggilnya ke ruang tamu hanya untuk merampas kehidupan dan cita-citanya. “Buang jauh-jauh cita-citamu nduk kamu itu perempuan dan perempuan itu tempatnya hanya di kasur, sumur dan dapur sudah banyak perempuan di lingkungan kita yang melanjutkan pendidikannya namun apa yang mereka dapat, tidak ada kan? Kamu harus sadar agar tidak terjebak seperti mereka yang hanya membuang-buang waktu.” Bantah Abahnya dengan nada keras sembari memukulkan tangannya ke meja entah setan apa yang merasuki Abahnya siang itu mungkin karena melihat putrinya yang terlalu keras kepala. “Abah sudah menemukan calon yang cocok untukmu dan Abah pun sudah menyepakati kalau pernikahan kamu dengan putra H. Bakri akan dilangsungkan satu minggu lagi kamu harus siap dengan kehidupan barumu itu suamimu akan menanggung kehidupanmu nanti”. “Apakah Umi sudah mengetahui hal ini Bah?” tanya Hamdah karena merasa tidak puas dengan keputusan yang Abahnya buat. ”Umimu belum mengetahui hal ini tapi Abah yakin dia pasti menyetujui hal ini semua”. Jawab Abahnya. Mendengar pemaksaan Abahnya serentak dada Hamdah sesak wajahnya pucat tanpa terasa matanya mengeluarkan airmata yang tak ia inginkan. “Maafkan Hamdah Bah bukannya aku tidak ingin berbakti pada Abah tapi aku tidak bisa memenuhi permintaan Abah walaupun Abah memaksaku sekalipun aku tetap pada pendirianku, kenapa Abah tega melakukan semua ini”. “Ini untuk masa depanmu nduk”. “Hamdah tahu itu bah, Abah juga tahu kan kalau pernikahan itu harus didasari dengan cinta tanpa cinta pernikahan itu tidak pernah akan Bahagia”. “Cinta? Kamu bicara cinta…! Abah dan Umimu dulu menikah bukan karena sebuah cinta melainkan karena proses perjodohan dan pada ujung-ujungnya cinta itu tumbuh secara perlahan” Jawab Abahnya dengan menguatkan pendapatnya. “Tidak bah tanpa cinta kita tidak akan mendapatkan kebahagiaan” Jawab Hamdah sembari menahan tangis. “Hamdah ke kamar dulu ingin shalat dzuhur”. Pamit Hamdah dengan membawa kesedihan dan pilihan yang harus ia tentukan antara membahagiakan kedua orangtuanya dan cita-cita yang memang ia tanam sejak kecil beban di pundaknya begitu besar untuk ia pikul sendirian. Dalam kamarnya Hamdah meratapi luka itu sendirian Uminya sebagai tempat ia mengadu sore itu sedang tidak ada di rumah karena belum pulang dari pasar.
Senja datang peralahan menggoreskan oretan indah dengan warna kuning kemerahan di kaki langit burung-burung pulang beterbangan setelah seharian mengasah pengalaman. Hujan turun membasahi seluruh desa menawarkan beragam harapan. Hamdah masih saja menagis, wajahnya murung tak seceria sebelum adanya kabar pernikahannya siang itu. Sore itu Uminya baru saja pulang sesampainya di depan pintu kamar Hamdah wajahnya terkejut melihat keadaan Hamdah yang terlihat mulai putus asa namun Uminya masih belum tahu tentang apa yang telah terjadi dengan putrinya, dengan segera Uminya menghampiri Hamdah karena ingin segera menghapus kebingungan yang membanjiri benaknya. “Kamu kenapa nduk? Ada apa, kenapa kamu menangis ayo cerita sama Umi”. Tanya Umi Hamdah sembari memeluk Hamdah dan membelai rambut hitamnya yang tak pernah tersentuh oleh cahaya mentari karena selalu tertutup kerungnya. Perlahan Hamdah bangkit dari pelukan ibunya dengan suara yang tersendak-sendak Hamdah pun mulai menceritakan tentang semua yang telah terjadi di siang itu, walau Hamdah sudah mengadukan semuanya namun airmatanya masih dan terus membasahi pipinya yang belia. “Aku tidak bisa melakukan itu aku masih ingin mengejar cita-citaku Umi tahu itu kan?”. “Sudahlah nduk jangan menangis lagi Umi akan mencoba bicara dengan Abahmu agar pernikahan itu dibatalkan”. Tutur Umi Hamdah dengan niat ingin menenangkan jiwa putrinya padahal ia belum yakin kalau Abah Hamdah akan membatalkan pernikahan itu. Mata Umi Hamdah juga ikut mengeluarkan airmata lantaran tidak kuat melihat penderitaan yang dihadapi putrinya padahal ia sudah mencoba untuk tidak menangis di depan putrinya airmata itu ia sembunyikan di balik senyumnya. “Umi menangis?” tanya Hamdah. “Umi tidak menangis, nduk Umi sangat menyayangimu umi juga ingin melihatmu mencapai cita-cita yang kau inginkan. Sudahlah hentikan tangisan itu Umi shalat dulu” jawab Umi hamdah sembari menghapus airmatanya untuk menyembunyikan airmatanya dari Hamdah dan meniggalkan Hamdah karena ia tidak ingin Hamdah tahu kalau ia juga menangis.
Hamdah already one week immersed in the wound and saddled constantly forced to choose an option that is very difficult for it to choose. The way he had done so the wedding was canceled, but only vanity he got, the ideals which he cherished to the ground into dust, leaving only memories of the wedding was really coming into sword is ready to yank all kehidunnya. Smile moon night party decorate decoration that has been dubbed the roses looked as complement, the living room was filled with the invitation Hamdah time for a new lifestyle is in sight just waiting lentingan agreement qabul read. "Welcome to my daughter's wedding, Mr. Mister hopefully will be lasting," said one invitation to Abah Hamdah. "Amen, Amen thank you for your attendance please please". I welcome his guests Hamdah who came to celebrate the wedding. With wedding dress and ornaments it looked elegant jasmine, but his eyes still glazed carry wounds that continue to kill her slowly escort industry Hamdah to the aisle where the place to be grabbed all the ambition he had procedures. Hamdah can not do anything about it just resigned to the fate that had invited him, The world already read all wedding invitations agrees that they can build a happy family mawaddah warohmah.

Share

& Comment

0 komentar:

Posting Komentar

Download It from Here

Designed by: Templatezy